Senin, 08 Juli 2013

PERAN BANK SEBAGAI LEMBAGA INTERMEDIASI

PERAN BANK SEBAGAI LEMBAGA INTERMEDIASI

Arinda Pramesti (29211380)
Fanny Octania Zuari (22211687)
Hapsari Widayani (23211213)
Siti Iqlima Zeinia (26211808)
Ulfah Khairrunnisa (27211216)

SMAK-05

Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran dari Bank sebagai lembaga intermediasi. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan mengenai pentingnya Bank sebagai perantara kedua pihak yang saling membutuhkan dalam hal keuangan. Jurnal ini menggunakan metode . Penelitian ini menganalisis laporan keuangan 4 bank pemerintah yang terdapat di Bursa Efek Indonesia. Jurnal ini menggunakan laporan keuangan bank pada tahun 2011 yang diambil dari situs resmi Bursa Efek Indonesia. Laporan keuangan yang digunakan merupakan laporan yang berisikan Loan to Deposit Ratio yaitu untuk mengukur pendanaan dari sisi kredit pada bank sebagai lembaga intermediasi. Selanjutnya dilakukan penelitian terhadap LDR setiap bank selama 3 tahun terakhir terhitung sejak tahun 2009. Sesuai aturan BI no 1/19/PBI/2010 dan berdasarkan penelitian serta pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa hanya ada 1 bank yang memiliki rata-rata LDR diatas persentase yang telah ditetapkan BI yaitu 104,1%, sedangkan ketiga bank lainnya masih dibawah persentasi peraturan BI.
Kata Kunci: Lembaga Intermediasi, Bank, LDR


PENDAHULUAN
Bank adalah salah satu lembaga keuangan yang berperan penting dalam perekonomian di Indonesia. Menurut Undang-Undang No.10 tahun 1998, Bank merupakan lembaga perantara keuangan, dimana bank bertugas untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa peran bank adalah suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak – pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus of funds) dengan pihak – pihak yang memerlukan dana (deficit of funds). Perbankan di Indonesia berfungsi sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat, serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Perbankan memiliki kedudukan yang startegis, yakni sebagai penunjang kelancaran sistem pembayaran, pelaksanaan kebijakan moneter dan pencapaian stabilitas sistem keuangan, sehingga diperlukan perbankan yang sehat, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan  (Bank Indonesia, 2012).

Dalam aktivitasnya, terdapat beberapa pihak yang terlibat selain bank. Antara lain pihak yang kebihan dana dan pihak yang membutuhkan dana. Pihak yang kelebihan dana atau sering disebut pihak ke tiga dapat menyimpan dananya dalam bentuk giro, deposito, tabungan, atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Simpanan dana pihak yang kelebihan atau surplus dana disebut Dana Pihak Ketiga (DPK). Sementara pihak yang membutuhkan dana, bank akan menyalurkan dana pihak ketiga kepada pihak-pihak tersebut. Secara ringkasnya, bank mendapatkan dana dari simpanan berjangka pendek untuk dipinjamkan dengan jangka yang lebih panjang (Hadi, 2010). Aktivitas ini disebut sebagai aktivitas penyaluran kredit. Aktivitas penyaluran kredit merupakan kegiatan utama dalam aktivitas perbankan. Pada aktivitas penyaluran kredit, bank memiliki tujuan untuk memperoleh laba, laba tersebut dihasilkan dari selisih antara bunga yang dihasilkan dari dana yang dipinjamkan kepada pihak yang membutuhkan dengan bunga yang bank berikan kepada pihak ketiga atau pihak surplus dana.

Pada sisi pihak yang membutuhkan dana, bank memiliki peranan penting. Salah satunya membangun kegiatan usaha yang dijalankan oleh pihak yang membutuhkan dana. Bank juga memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, mengembankan dunia usaha di Indonesia, dan mengurangi tingkat pengangguran ataupun kemiskinan di Indonesia. Sebagai salah satu penopang perekonomian Indonesia, fungsi bank sebagai perantara keuangan harus berjalan dengan baik. Jika salah satu fungsi tidak berjalan dengan benar, maka perekonomian Indonesia juga akan terancam. Perannya sebagai perantara keuangan tidak hanya sebagai lembaga penyalur kredit.

Bank juga merupakan pelaku investasi dalam pasar modal. Keikutsertaan bank dalam pasar modal tidak jauh dari tugasnya sebagai perantara keuangan. Pasar modal dirasa sebagai lahan yang tepat bagi bank untuk mengelola dana pihak ketiga. Seperti yang telah diketahui, kelangsungan hidup sebuah bank akan terus terjamin jika bank masih mampu mengembalikan bunga dari dana pihak ketiga yang merupakan sumber utama dari kegiatan bank. Dana pihak ketiga merupakan instrumen yang sangat bank butuhkan, karena itu bank akan berupa untuk mengembalikan dana tersebut beserta bunganya. Sedangkan untuk meminjamkan dana pihak ketiga kepada pihak yang membutuhkan memiliki tingkat resiko yang cukup tinggi. Resiko tersebut tidak lain adalah ketidakpastian pengembalian dana. Dari pasar modal bank akan memperoleh dividen dari dana pihak ketiga yang ia kelola didalamnya. Dividen itu akan menjamin bank untuk mengembalikan bunga serta dana kepada pihak ketiga, tanpa takut akan resiko dari penyaluran kredit. Sehingga kelangsungan hidup bank akan terus terjaga selama proses-proses tersebut berjalan dengan baik. Jurnal ini akan membahas lebih dalam tentang peran bank sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediary).

METODE PENELITIAN
·         Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Pengumpulan data sekunder melalui penelusuran pustaka, dokumen dan website terkait terutama dari Bursa Efek Indonesia

·         Metode analisis yang digunakan untuk menganalisa dan menginterpretasikan data adalah :
Ø  Metode Deskriptif, yaitu pengumpulan data mengenai informasi yang berisikan Loan to Deposit Ratio yaitu untuk mengukur pendanaan dari sisi kredit pada bank sebagai lembaga intermediasi. Data lain yang dibutuhkan adalah laporan keuangan 4 bank pemerintah tahun 2011  yang berhubungan dengan Peran Bank sebagai Lembaga Intermediasi tersebut.
Ø  Metode perhitungan Loan to Deposit Ratio (LDR) yaitu metode yang dapat mengukur Peran bank dalam aktivitas menerima simpanan masyarakat dan menyalurkan dana ke masyarakat. Masyarakat yang memiliki dana lebih dapat menyimpan dana di bank dalam bentuk giro, deposito, tabungan, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan sesuai kebutuhan dan disebut dana pihak ketiga. Sementara masyarakat yang kekurangan dan membutuhkan dana dapat mengajukan pinjaman atau kredit pada bank. Dimana rumus LDR adalah


PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan laporan keuangan dari bank pemerintah yang ada di BEI. Bank tersebut secara lengkap melaporkan data keuangannya termasuk LDR. Besarnya LDR yang ditetapkan BI dan harus ditaati oleh bank mulai 1 Maret 2011 adalah pada kisaran 78%-100% (peraturan BI no 1/19/PBI/2010). Berikut ini adalah tabel LDR bank milik pemerintah periode 2009 – 2011 yang terdiri dari Bank Negara Indonesia,Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara, sebagai berikut:

Type of Bank
Name of Bank
LDR (%)
Mean
2009
2010
2011
Bank Pemerintah
Bank Mandiri
61,4
67,6
74,1
67,7
Bank Negara Indonesia
64,1
70,2
70,4
68,2
Bank Rakyat Indonesia
80,88
75,17
76,2
77,4
Bank Tabungan Negara
101,29
108,42
102,57
104,1


Total
317,4
Sumber:www.idx.co.id, diolah

Bank Mandiri
Dilihat dari tabel diatas dapat diperhatikan bahwa dari tahun 2009 hingga 2011 LDR Bank Mandiri ini mengalami peningkatan yang lumayan baik sebagai fungsi intermediasi. Namun dalam memenuhi ketentuan LDR yang ditetapkan oleh BI, Bank Mandiri ini masih belum dapat memenuhi kriteria tersebut yang mana ketetapannya adalah kisaran 78% - 100%. Sedangkan rata-rata LDR Bank Mandiri ini masih dibawah 70% tepatnya 67,7%.  Perlu diperhatikan bahwa rendahnya posisi LDR ini akan menyebabkan berkurangnya pendapatan dari sisi interest income (pendapatan bunga) karena kredit yang disalurkan masih rendah dan akan berimbas pada besarnya laba. Sehingga perlu diadakan peningkatan LDR dengan menambahkan penyaluran kredit yang perlu ditingkatkan dalam pencapaian fungsi bank sebagai lembaga intermediasi.

Bank Negara Indonesia (BNI)
Sama seperti Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI) juga mengalami peningkatan fungsi intermediasi secara bertahap dari tahun 2009 sampai tahun 2011, namun masih belum memenuhi kisaran 78% - 100% yang telah ditetapkan BI. Dilihat dari rata-rata LDR selama 3 tahun kebelakang posisi LDR sudah cukup bagus, tidak terlalu rendah tapi masih dibawah 70% tepatnya adalah 68,2 %. Angka tersebut masih harus ditingkatkan agar dapat mencapai angka yang sudah ditetapkan oleh BI. Maka Bank Negara Indonesia (BNI) harus mengoptimalkan penyaluran kredit kepada masyarakat agar fungsi bank sebagai lembaga intermediasi dapat terlaksana dengan baik juga untuk menggerakan perekonomian lebih aktif lagi.

Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Jika dilihat pada table di atas, angka LDR Bank Rakyat Indonesia (BRI) selama tiga tahun kebelakang mengalami penurunan, yang sebelumnya pada tahun 2009 adalah 80,88% menjadi 76,2% di tahun 2011. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kinerja dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi. Namun jika dilihat dari rata-ratanya Bank Rakyat Indonesia memiliki angka yang mendekati ketetapan BI yaitu sebesar 77,4 %. Jika Bank Rakyat Indonesia tidak ingin mengalami penurunan LDR di tahun berikutnya, Bank Rakyat Indonesia harus lebih kerja keras dalam menyalurkan kreditnya kepada masyarakat, minimal harus bisa mempertahankan angka 76,2%.

Bank Tabungan Negara (BTN)
Berbeda dari ketiga Bank yang telah disebutkan, posisi LDR Bank Tabungan Negara (BTN) pada tahun 2009 sampai tahun 2011 sudah berada dikisaran ketetapan BI. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi intermediasi telah dilaksanakan dengan baik oleh Bank Tabungan Negara. Namun jika kita cermati Bank Tabungan Negara memiliki nilai yang melebihi dari yang ditetapkan oleh Bi yaitu sebesar 101,29 %, 108,42 %, dan 102,57 %. Kelebihan ini memang tidak terlalu besar namun perlu diperhatikan, jika LDR di atas ketetapan BI maka sesuai dengan tujuan BI mengadakan pembatasan LDR hingga maksimum yaitu sebesar 100% adalah untuk menjaga posisi likuidasi tetap terjaga dengan baik.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik simpulan bahwa hanya ada 1 bank yang memiliki LDR diatas persentase peraturan BI yaitu 78% hingga 100%. Bank tersebut adalah Bank Tabungan Negara. Sedangkan Bank Rakyat Indonesia memiliki rata-rara LDR sebesar 77,4%, lalu ada Bank Negara Indonesia yang memiliki rata-rata LDR yaitu 68,2%, dan yang terakhir adalah Bank Mandiri dengan rata-rata LDR sebesar 67,7%. Jika melihat persentase rata-rata LDR yang dimiliki Bank Tabungan Negara yang memiliki kelebihan nilai, membuat bank ini untuk membatasi LDR hingga nilai maksimum 100% sesuai ketetapan BI. Jika likuiditas Bank terganggu karena tingginya angka LDR maka Bank bisa saja tidak mampu membayar kewajiban jangka pendeknya. Untuk itu, tingginya nilai LDR harus dibarengi dengan nilai CAR (capital equidity ratio) Bank tersebut. Jika nilai CAR Bank tersebut juga tinggi, maka tidak masalah memiliki niali LDR yang tinggi.

Berdasarkan simpulan yang dikemukan di atas, diharapkan dapat memberikan manfaat kepada Bank Pemetintah untuk menjaga tingkat likuiditasnya melalui LDR. Hal ini sangat penting untuk pemenuhan dana pihak ketiga agar bank berjalandengan baik. Untuk itu perlu adanya perhatian yang cukup mengenai likuiditas pada bank.

DAFTAR PUSTAKA
www.idx.co.id diakses tanggal 7 Juli 2013
Nuringwahyu, Sri. 2013. Peran Bank Sebagai Lembaga Intermediasi. http://srinuringwahyu.blogspot.com/2013/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html#more. Diakses tanggal 7 Juli 2013.
Andries, A. M. 2009. Theories Regarding Financial Intermediation And Financial Intermediaries – A Survey. University of Iasi. Romania
Allen, F, Santomero, A. M. 2001. What Do Financial Intermediaries Do?. Journal of Banking & Finance 25 (2001) 271 – 294.

Jumat, 05 Juli 2013

Cerita Dibalik Bank (Part III)

Hari-hari berlanjut dengan tugas...............tugas bank (wkwkwkw) J Jangan bosen ya. Kali ini saya mau cerita mengenai pencatatan yang dilakukan bank untuk setiap rekening mereka. Ada pula bunga yang akan mereka hitung untuk menentukan saldo akhir dan awal bulan berikutnya.


Produk yang dijual oleh bank yaitu sisi liabilities selalu ada bunga yang akan dihitung. Rumus untuk menghitung hal tersebut adalah sebagai berikut:
Keterangan : HB = Hari Bunga

Adapun proses yang dilakukan bank adalah akhir hari dan akhir bulan. Dimana akhir hari merupakan saldo yang mana bank akan merekap saldo tersebut. Pada akhir bulan, bank akan melakukan rekap saldo, hitung bunga, dan penetapan saldo.

Proses tersebut menggunakan metode saldo harian, saldo rata-rata, dan saldo terendah. Mari kita ilustrasikan semua kegiatan ini:

Imon memiliki catatan transaksi di Bank Kasih sebagai berikut:
5/6       Setor Tunai 10 juta
7/6       Ambil Tunai 2 juta
10/6     Pinbuk kredit dari deposit 15 juta
17/6     Pinbuk debet tabungan mamah Salmon 5 juta
25/6     Pinbuk debet tabungan Salmon (Bank In Love) 5 juta
26/6     Pinbuk kredit Bilyet Giro mamah Salmon (Bank In Love) 20 juta
Bank Kasih akan merekap saldonya:
Setelah me-rekap saldo Imon, Bank Kasih akan menghitung bunga menurut metode masing-masing.

Metode Harian

Metode Saldo Terendah

Metode ini sering digunakan untuk tabungan pelajar. Seperti namanya yaitu metode saldo terendah, metode ini menggunakan saldo yang paling rendah dalam transaksi yaitu 8 Juta. 
Metode Rata-Rata

Metode saldo rata-rata tergantung dari berapa lama tabungan itu mengendap. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Perhitungan selanjutnya adalah menghitung bunga setelah pajak. Perhitungan bunga sebelumnya merupakan bunga kotor atau bunga sebelum pajak (BT). Menghitung bunga setelah pajak (AT) berfungsi untuk menentukan saldo akhir yang akan menjadi saldo awal bulan berikutnya, dalam kasus ini bulan Juli. Perhitungan yang digunakan adalah Bunga Kotor – (Pajak x Bunga Kotor), lalu asumsikan bahwa pph sebesar 10%, hitunglah bunga setelah pajak untuk setiap metode.

Metode Harian =         144.383,55 – (10% x 144.383,55) = 129.945,195

Hasil dari perhitungan bunga ditambah pajak adalah bunga akhir bulan yang akan dijumlahkan dengan saldo akhir bulan yang hasilnya adalah saldo awal bulan berikutnya yaitu bulan Juli. Perhitungannya adalah 33 Juta + 129.945,195= 33.129.945,195ini adalah saldo tabungan Imon pada awal bulan Juli.

Metode Terendah =    13.150,68 – (10% x 13.150,68) = 11.835,612

Ini artinya saldo Imon untuk awal bulan Juli adalah 33 Juta + 11.835,612= 33.011.835,612

Metode Rata-Rata =   28.767,12 – (10% x 28.767,12) = 25.890,408

Saldo yang akan diterima Imon pada awal bulan Juli adalah 33 Juta + 25.890,408 = 33.025.890,408

Cerita berlanjut ke kegiatan Bank In Love dan Bank Kasih. Dibawah ini merupakan kliring yang dikirim antar kedua bank tersebut.
Saldo yang akan terjadi atas kliring diatas adalah sebagai berikut:
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa jika + maka bank tersebut menang kliring. Lalu, transaksi ini akan berpengaruh pada perhitungan R/K pada BI.

Bank In Love
Deposit            = 8% x 400 Juta = 32 Juta
ER                   = 4% x 400 Juta = 16 Juta
Total R/K BI   = 48 Juta

Dikarenakan Bank In Love menang kliring, maka saldo R/K BI bertambah sebesar 10 Juta menjadi 58 Juta. Jumlah ini masih dalam batas minimal deposit R/K pada BI.

Bank Kasih
Deposit            = 8% x 250 Juta = 20 Juta
ER                   = 2% x 250 Juta =   5 Juta
Total R/K BI   = 25 Juta

Hal ini juga terjadi pada Bank Kasih yang memiliki saldo 25 Juta, namun karena kalah kliring, maka saldo Bank Kasih akan berkurang 10 Juta menjadi 15 Juta. Saldo yang dimiliki Bank Kasih saat ini dibawah saldo minimal di BI yang harusnya 20 Juta. Untuk itu Bank Kasih mengadakan Call Money. Bank Kasih meminjam (Call Money) kepada Bank In Love sebesar 5 Juta. Jadi, saldo Bank In Love akan berkurang 5 Juta menjadi 43 Juta. Sedangkan Bank Kasih bertambah menjadi 20 Juta.

Inilah cerita ketiga mengenai bank. Sepertinya masih ada cerita selanjutnya huehehe. Tetep dibaca ya guys J

Kamis, 04 Juli 2013

Cerita Dibalik Bank (Part II)

Selamat datang kembali ke blog ini J Kali ini saya mau cerita mengenai Bank yang memiliki tangan kanan dan tangan kiri yaitu sebagai dana masuk dan dana keluar. Dana masuk yaitu sisi liabilities biasa disebut source of fund. Sedangkan dana keluar atau sisi assets disebut use of fund. Didalam liabilities terdapat deposit (simpanan masyarakat) yang terdiri dari:
  • ·         Saving Deposit (tabungan)
  • ·         Demond Deposit (giro)
  • ·         Time Deposit (deposito)

Bunga dari ketiga deposit ini adalah i1, lalu ada securities yang terdiri dari:
  • ·         Obligasi
  • ·         Pinjaman BI (KLBI)
  • ·         Pinjaman holding

Bunga dari securitied merupakan i2, dan yang terakhir adalah capital:
  • ·         Setoran modal
  • ·         Retained earning (hasil operasi)
  • ·         Deviden

Selisih dari laba operasi dan retained earning adalah hasil operasi berupa dividen yang dibagikan ke pemegang saham. Deviden dari capital tersebut merupakan i3.

Dari sisi assets terdapat:
  • ·         Loan/kredit
  • ·         Cash reserves
  • ·         Securities
  • ·         Other Liabilities


Loan dan deposit saling berhubungan dimana deposit yang merupakan simpanan masyarakat akan disalurkan kembali melalui bank berupa loan/kredit. Adapun regulasi atau aturan dari BI adalah LDR (Loan to Deposit Ratio). LDR maksimum yaitu 110% dari 100% deposit dan 10% capital. Presentase ini dari  

Cash reserves merupakan merupakan kas yang disimpan di BI yaitu R/K (Rekening Koran) BI. Menurut regulasi BI yaitu LRR (Legal Reserves Requirement), minimal penyimpanan adalah 8% dari deposit. Aturan ini berguna untuk likuiditas dan kliring.

Securities pada liabilities merupakan sekuritas yang dijual oleh bank. Sedangkan pada aset merupakan sekuritas yang dibeli bank.

Deposit yang mana dana dari masyarakat merupakan dana yang paling besar. Jika Capital dan Securities > dari Deposit maka Bank tidak sehat.

Sebelumnya saya menyebutkan mengenai kliring. Kliring merupakan salah satu kegiatan bank yang sering dilakukan dan diperlukan. Kliring sebagai suatu istilah dalam dunia perbankan dan keuangan menunjukkan suatu aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut. Kliring sangat dibutuhkan sebab kecepatan dalam dunia perdagangan jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan guna melengkapi pelaksanaan aset transaksi.

Konsep dari kliring akan saya gambarkan seperti dibawah ini:


Disuatu daerah terdapat Bank In Love, Bank Kasih, Bank Sayang, dan Bank Bank Rindu. Keempat bank ini mempunyai kerjasama yang baik. Nasabah Bank In Love sering bertransaksi (dengan memberikan warkat/surat) lewat Bank Kasih, begitu juga bank lainnya, melakukan hal yang sama. Transaksi seperti ini melibatkan kurir yang akan menyampaikan warkat di bank yang bersangkutan. Untuk itu perlu adanya lembaga yang mengatur yaitu Bank Inti (Bank Indonesia). BI ini membuat aturan sesuai regulasinya yaitu menyimpan 8% dari deposit. Charge dari aturan ini adalah R/K BI.

Contoh dari kliring adalah sebagai berikut: (lanjutan Cerita Dibalik Bank)

Imon merupakan pengusaha furniture, sedangkan Salmoon adalah pengekspor. Salmoon memutuskan untuk membeli furniture dari Imon untuk diekspor ke Venice. Salmon memberikan cek kepada Imon untuk membayar furniture yang ia beli. Salmon merupakan nasabah Bank In Love dan Imon adalah nasabah Bank Kasih. Cek yang Salmon berikan adalah cek dari Bank In Love. Imon ingin mencairkannya di Bank Kasih. Prosedur pencairan ini tidak semudah yang dibayangkan. Prosedur ini adalah kliring.


Cek yang diberikan pada Imon akan dicairkannya di Bank Kasih. Bank Kasih akan mengirim transaksi ini ke BI. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa penyimpanan deposito di BI oleh setiap bank berfungsi untuk transaksi ini. Pemberitahuan kepada BI ini akan diproses di BI dan mengurangi kas Bank In Love yang ada di BI. Setelah dikurangi oleh BI, BI akan memberitahu Bank In Love bahwa Bank Kasih memiliki tagihan atas Bank In Love dan sudah mengurangi kas Bank In Love di BI. Proses ini merupakan kliring. Adapun tagihan ini nota debet keluar dan masuk.

Pencatatan atas aliran ini sebagai berikut:

Nota Debet

Dalam Bank Kasih, Imon memiliki 2 akun yaitu Tabungan dan Giro, dan Bank Kasih memiliki 1 akun yaitu R/K BI yang bersangkutan dengan BI. Saat Imon ingin mencairkan dananya di Bank Kasih, Bank Kasih akan mendebet akun R/K BI dan menkredit Tabungan Imon sebesar cek yang dicairkan. BI juga akan mencatat transaksi ini dengan mendebet R/K Bank In Love dan menkredit R/K Bank Kasih sebesar cek yang dicairkan. Salmon juga mempunyai 2 akun yaitu Tabungan dan Giro, dan Bank In Love memiliki 1 akun yaitu R/K BI yang bersangkutan dengan BI. Salmon yang memberikan ceknya, Bank In Love akan mendebet Giro Salmon dan menkredit R/K BI.

Nota Kredit

Salmon menjadi langganan Imon hingga saat ini. Akhirnya Salmon jatuh cinta pada Imon. Saat ulang tahun Imon yang ke-20, Salmon memberikan hadiah berupa uang 20 juta kepada Imon. Tabungan Salmon yang ada di Bank In Love dipindahkan ke Imon yaitu Bank Kasih. Bank In Love akan memberitahu BI bahwa ada transaksi yang dilakukan untuk Bank Kasih. Oleh sebab itu Bank In Love akan mendebet Tabungan Salmon dan mengkredit R/K BI. Lalu, BI juga akan mendebet R/K BI Bank In Love dan menkredit R/K BI Bank Kasih sebesar 20 juta. Bank Kasih juga akan mendebet R/K BI dan menkredit Tabungan Imon sebesar 20 juta. Proses ini dinamakan nota kredit. Saat Bank In Love memberitahu BI dinamakan nota kredit keluar dan saat BI memberitahu Bank Kasih dinamakan nota kredit masuk.

Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini:


Jika Nota Debet keluar akan menyebabkan R/K BI bertambah, begitu pula sebaliknya. Lalu, jika Nota Kredit keluar akan menyebabkan R/K BI berkurang, atau sebaliknya. Ada pula Tolak Kliring yang menyebabkan bertambah atau berkurangnya R/K BI tergantung transaksi. Total dari R/K BI yang ada ditransaksi, jika nilainya bertambah berarti bank tersebut Menang Kliring. Begitu juga sebaliknya, jika total dari R/K BI yang ada ditransaksi, jika nilainya berkurang berarti bank tersebut Kalah Kliring.

Suatu ketika Salmon dipindahtugaskan ke Bali, sedangkan Imon menetap di Jakarta. Pada peringatan 1 tahun jadian mereka, Salmon memberikan tabungannya kepada Imon sebesar 100 juta. Proses dari transaksi ini adalah seperti gambar dibawah ini:

Bank In Love Bali akan memberitahukan Bank In Love Jakarta bahwa Salmon memberikan tabungannya. Akibatnya, Bank In Love Bali mendebet Tabungan Salmon pada R/K. Pemberitahuan atau proses ini dinamakan Transfer. Lalu Bank In Love Jakarta akan memberitahu BI Jakarta untuk mendebet R/K Bank In Love dan menkredit R/K Bank Kasih. Setelah itu BI Jakarta akan memberitahu Bank Kasih Jakarta bahwa ada tambahan dana untuk Imon. Proses dari Bank In Love Jakarta ke BI Jakarta dan BI Jakarta ke Bank Kasih Jakarta adalah Kliring. Lalu, Bank Kasih Jakarta akan menkredit Tabungan Imon pada R/K.

Sebelum masuk ke Tolak Kliring yang mana berarti kekurangan dana, mari simak Excess Reserves terlebih dahulu. Excess Reserves adalah kelebihan transaksi dari nilai minimal. Misalnya, Bank In Love memiliki deposit 100 juta.

Deposit                        100 juta
R/K BI                8%       8 juta
Excess Reserves              2 juta
Total R/K BI                 10 juta
Selanjutnya saya akan menjelaskan Tolak Kliring.

Tolak Kliring terjadi jika ada laporan dari BI bahwa Bank yang tertagih tidak memiliki dana yang sesuai dengan transaksinya. Misalnya ternyata dana Bank In Love di BI tidak mencukupi untuk transaksi yang sedang ia lakukan, maka BI akan menolak kliring Bank In Love.

Kalah kliring                           4 juta
Bayar                                       10 juta
Sisa R/K BI                             6 juta               >> Sisa ini kurang dari 8% seperti regulasi BI.


Kekurangan 2 juta harus meminjam pada bank lain. Inilah yang disebut Call Money.          

Sabtu, 29 Juni 2013

Cerita Dibalik Bank (Part I)

Kali ini saya akan bercerita sedikit (banyak, hahaha) mengenai BANK. Semua orang memerlukan bank dan bank butuh nasabah. Namun, yang kita ketahui hanyalah kegunaan bank, dibalik itu bank mempunyai cerita yang unik bersama perusahaan-perusahaan non bank lainnya. Mari disimak J


Bayangkan jika tidak ada bank didunia ini. Dari mana kita bisa minjam uang? Ya mungkin bisa dari teman atau saudara dan itu berarti kita harus saling kenal dan percaya untuk meminjam dan meminjamkan uang. Selain itu kita juga membutuhkan dana (Double Coincidence) untuk meminjamkannya kepada orang lain. Disinilah keugunaan dari bank. Bank akan menampung dana seseorang yang surplus dan menyalurkannya kepada orang yang kekurangan. Hal ini disebut Financial Intermediation, yaitu perantara keuangan. 

Klik gambar jika ingin memperbesar

Seperti yang terlihat pada gambar bahwa Imon menabung uang di Bank In Love, maka Imon memperoleh bunga yaitu b1. Lalu datanglah Salmon ingin meminjam uang. Salmon akan membayar bunga yaitu b2 kepada Bank In Love. Selisih dari b1 dan b2 merupakan pendapatan yang diperoleh Bank In Love. Dengan kata lain b2>b1.

Ada cara lain untuk masalah ini (simpan/pinjam) yaitu dengan pasar modal. Salmoon dapat menjual sahamnya di pasar modal dan Imon akan membelinya. Dengan demikian Imon akan mendapatkan saham (Surat Kepemilikan Perusahaan) dan memperoleh deviden yaitu b3 pada akhir periode yang biasanya pada akhir tahun. Imon juga bisa mendapatkan Capital Gain jika ia menjual saham tersebut pada saat harga saham sedang meningkat. Selanjutnya jika Salmon tidak ingin perusahaannya dimiliki pihak luar, ia bisa menjual obligasi (Surah Hutang).

Masih terlalu sederhana jika masih simpan dan pinjam. Ada beberapa risiko yang akan dialami Bank In Love. Jika Salmon tidak bisa melunasinya karena suatu hal maka Bank In Love harus melunasi pinjaman itu kepada Imon. Maka, untuk mengurangi risiko tersebut, Bank In Love mengasuransikan pinjaman tersebut ke Asuransi Ku. Jika Salmon meminjam 100 juta, maka Bank In Love mengasuransikannya premi 1 juta pada Asuransi Ku. Namun, Asuransi Ku hanya mampu menanggung 20 juta, maka Asuransi Ku mengasuransikan kembali ke Asuransi Dia. Hal ini disebut Reasuransi. Asuransi Dia akan menerima premi 800 ribu dari Asuransi Ku. Kemudian, Asuransi Dia hanya mampu menanggung 25 juta, maka ia mengasuransikannya kembali ke Asuransi Mereka (hal ini disebut rektosesi dan hanya terjadi diluar negeri dan menjadi Capital Flight) dengan membayar premi sebesar 550 ribu. Lalu, sekarang Asuransi Dia menanggung 25 juta dan menerima premi 250 ribu, sedankan Asuransi Mereka menanggung 55 jta dengan menerima 550 ribu.

Asuransi Mereka menggunakan premi tersebut dengan membuat perusahaan Manajemen Investasi yaitu PT. Silver. Perusahaan manajemen investasi tersebut membuat perusahaan kecil yaitu, PT. 11, PT November, dan PT. 2011. Lalu, PT. 11 membeli sahal Bank In Love sebesar 20%, begitu juga dengan PT. November membeli sahamnya sebesar 30%, dan PT. 2011 akan membeli saham sebesar 30%. Ini artinya, sudah 80% kepemilikan perusahaan dimiliki oleh perusahaan manajemen investasi atas Bank In Love. Hal ini dapat diartikan bahwa Asuransi Mereka dapat mengendalikan Bank In Love.

Sebagian orang enggan meminjam uang di bank. Seperti yang telah kita ketahui bahwa bank selalu memberikan bunga yang tinggi pada peminjam. Namun, bank tetap bergantung pada Salmon dan Imon. Jika tidak ada nasabah seperti mereka, bank tidak akan berjalan dengan baik. Jika nasabah seperti Salmon berkurang, maka bank harus mencari cara lain agar mampu membayar bunga pada nasabah seperti Imon. Bank In Love akan membuka perusahaan yaitu PT. Cinta yang membeli motor dari pabrik yaitu PT. Perahu yang nantinya pabrik itu mendapat bunga yaitu b5.

Sebelumnya, karena Salmon tidak ingin meminjam uang padahal ia ingin beli motor, akhirnya ia mencoba kredit di perusahaan leasing yaitu PT. Cinta. Nah, cerita ini berhubungan dengan Bank In Love yang mana mendirikan PT. Cinta untuk memecahkan masalahnya. Salmon akan membayar bunga yaitu b4 kepada Bank In Love. PT. Cinta ini disebut Leasing. Kemudian Bank In Love membuka perusahaan baru yaitu PT. Paris yang merupakan perusahaan kartu kredit. Lalu Salmon juga akan membayar bunga b4 kepadanya. Pendapatan dari PT. Cinta dan PT. Paris yang berasal dari b4 dan b2. Maka dapat disimpulkan bahwa b1<b4 dan b2>b4.

Inilah serangkaian cerita dibalik Bank. Semoga bermanfaat ya J