Jumat, 19 Oktober 2012

Mengukur Inflasi dengan Indeks Harga dan Perhitungan antara GDP Deflator – Consumer Price Index (CPI)


Mengukur Inflasi dengan Indeks Harga dan
Perhitungan antara GDP Deflator – Consumer Price Index (CPI)
Disusun Oleh :
SMAK-05

Hapsari Widayani (23211213)
J. Asfirotun ( 27211827)
Siti Iqlima Zeinia (26211808)

Pendahuluan

Dewasa ini pembahasan mengenai perekonomian sangat erat kaitannya dengan membahas inflasi. Inflasi itu sendiri di definisikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Atau dengan kata lain, inflasi adalah proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Sedangkan Deflasi adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah.

Inflasi digolongkan menjadi  4 macam, yaitu :
·         Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun.
·         Inflasi sedang antara 10%—30% setahun
·         Inflasi berat antara 30%—100% setahun; dan
·         Hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

 Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator. Cara perhitungan CPI dan Deflator adalah sebagai berikut :

v  CPI (Consumer Price Index)
Σ P0 Q0                                                        Σ P1 Q0
Σ P0 Q0                  atau               Σ P0 Q0


v  GDP Deflator
Σ P0 Q0                                atau                 Σ P1 Q1
Σ P0 Q0                                                   Σ P0 Q1

     II.            Hasil Analisis
Berikut adalah data Produksi Perusahaan Susu Sapi Perah tahun 2000-2009
Produksi Susu
Jumlah (000 Ltr)
Nilai (Juta Ltr)
2000
34,290.80
55,826.83
2001
351,717.80
59,815.11
2002
37,013.33
65,969.26
2003
31,639.38
59,634.51
2004
34,102.13
67,347.55
2005
33,041.83
73,827.14
2006
39,680.25
89,454.68
2007
45,036.63
125,831.68
2008
19,439.21
60,151.99
2009
19,210.49
59,535.43
            Dari data diatas dihitung Indeks Harga Konsumen dan PDB Deflator. Hasilnya sebagai berikut:
Menurut data diatas, setelah dihitung Indeks Harga Konsumen (CPI) dan PDB Deflator (GDP Deflator diperoleh grafik yang menunjukan perubahan dari keduanya.
Deflator PDB adalah analog dari indeks harga konsumen (CPI) dan menunjukkan perubahan dalam tingkat harga semua barang milik PDB. Untuk perhitungan deflator, berbagai barang dan jasa yang terpilih, dan perhitungan ini meliputi tidak hanya harga barang-barang dan jasa, tetapi juga harga untuk barang-barang investasi, barang dan jasa yang dibeli oleh pemerintah maupun barang dan jasa yang diperdagangkan di pasar dunia.
Deflator adalah indeks harga agregat bertujuan untuk penghapusan dampak harga dan penentuan dinamika volume fisik indikator nilai gabungan:
1. PDB secara keseluruhan,
2. PDB menurut sektor ekonomi,
3. PDB dari daerah pengguna terakhir,
4. PDB dari total pendapatan negara dan sosial kelompok tertentu.

Berbeda dengan indeks harga konsumen, PDB deflator tidak diukur pada barang yang tetap melainkan pada struktur saat produksi. Harus diingat bahwa GDP deflator yang berbeda mencerminkan barang dan jasa selama bertahun-tahun, sehingga deflator tiap tahun berbeda dan tidak sama. Berbeda dengan deflator, indeks harga konsumen (CPI) menunjukkan dinamika biaya perhitungan barang dan jasa yang sama. Itu sebabnya secara akurat mencerminkan biaya satu perhitungan dari waktu ke waktu.
Dari grafik diatas terlihat bahwa CPI ddan GDP Deflator tersebut mengalami fluktuasi. Pada tahun awal (2000) terjadi persamaan hasil CPI dan GDP Deflator yaitu 1%. Lalu CPI mengalami kenaikan pada tahun 2001 sampai tahun2002. Begitu pula dengan GDP Deflator. Setelah itu pertengahan tahun 2002 sampai tahun 2004 nilainya keduanya turun. Tahun 2004 GDP Deflator mengalami kenaikan tajam. Sebaliknya, CPI mengalami kenaikan secara perlahan-lahan. Awal tahun 2006 keduanya mulai beranjak naik. Hingga pertengahan tahun 2006 CPI naik drastis hingga 2,253964268%. Berbeda dengan GDP yang naik hanya 1,40665284%. Kenaikan CPI dan GDP Deflator diakibatkan oleh kenaikan harga. Hal ini mengakibatkan tingkat inflasi meningkat.

III. Kesimpulan
Dari data diatas terlihat perubahan tingkat inflasi melalui dua cara yaitu CPI dan GDP Inflator. Jika memakai cara CPI terlihat jelas kenaikan tingkat inflasinya secara perlahan-lahan. Namun keduanya bisa menggambarkan kenaikan atau penurunan inflasi. Menurut data diatas, dari tahun 2000 hingga tahun 2009 terjadi tingkat perubahan inflasi. Hal ini disebabkan oleh perubahan harga. Jika harga naik, inflasi pun terjadi. Jika dilihat dari grafiknya, tingkat inflasi meninggi pada tahun 2007.

Sumber:
http://www.mafiaforex.com/id/2011/04/indikator-makro-ekonomi-deflator-pdb/
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=3&tabel=1&daftar=1&id_subyek=24&notab=4






1 komentar:

  1. artikel anda menarik ,kami juga mempunyai artikel tentang tingkat inflasi silahkan dibaca semoga bermanfaat dan berikut adalah link nya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/2210/1/Pengaruh%20Tingkat%20Suku%20Bunga%20SBI,Nilai%20Tukar%20Mata%20Uang%20dan%20Tingkat%20Inflasi%20Terhadap%20Perubahan%20Harga%20Saham%20Sub%20Sektor%20Perbankan%20di%20Bursa%20Efek%20Indonesia003.pdf

    BalasHapus

Do not said a negative word!